Kamis, 31 Mei 2012

PELATIHAN PENGABDIAN BERMUTU DAN BERDAMPAK


PPM Seperti Mengelola Lebah ?

Gagasan penyelenggaraan Pelatihan Pengabdian Yang   Bermutu dan Berdampak lahir kurang dari waktu satu bulan FLipMAS Jabodetabek lahir, inisiator dan penyelenggara adalah DRPM UI yang pelaksanaannya akan dilakukan pada tanggal 19-20 Juni 2012. Disimak dari materinya sangat menarik, tentu kegiatan ini akan menarik PROdikMAS untuk mengikutinya. 


Pengabdian masyarakat, salah satu Tridarma Perguruan Tinggi (PT) yang semestinya merupakan satu kesatuan dengan dua darma yang lain, belum memperoleh apresiasi secara memadai. Hal itu dapat diketahui dari data DIKTI sampai dengan tahun 2010 kurang 5% populasi dosen dan kurang dari 1% guru besar yang aktif melaksanakan pengabdian masyarakat. Demikian pula besarnya alokasi dana PPM di DP2M masih berkisar sekitar 15% dari alokasi dana riset dosen.  Alokasi tersebut belum mampu ditingkatkan sampai mencapai 20-25%.  Sebaiknya para dosen juga harus mempersiapkan program pengabdian masyarakat yang bermutu dan berdampak serta memberikan manfaat/perubahan kea rah yang lebih baik di masyarakat. Hal ini tentunya tidak mudah untuk diwujudkan, untuk itu Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia memandang perlu untuk membuat "Pelatihan Pengelolaan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang Bermutu dan Berdampak".
Maksud dan Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para pengabdi masyarakat menghasilkan program pengabdian masyarakat yang bermutu dan berdampak. Materi program ini didesain ntuk memberikan informasi dan keahlian dibidang-bidang yang dipandang krusial dalam penyelenggara program pengabdian masyarakat yang bermutu dan berdampak, yaitu:
  1. Menyiapkan keberlanjutan program pengabdian masyarakat secara mandiri
    Banyak kegiatan pengabdian masyarakat yang telah dilakukan tidak dapat bertahan lama dan bahkan hanya dilakukan pada saat pelaksanaan pelatihan, penyuluhan, batas akhir penyelesaian program atau kegiatan sehari saja. Dengan adanya kondisi tersebut, di sesi ini akan diberikan keahlian kepada para peserta mengenai: 
    • Bagaimana menyiapkan program pengabdian masyarakat yang dapat terus terlaksana di masyarakat hingga target tercapai
    • Bagaimana menyiapkan masyarakat atau mitra agar tidak bergantung kepada para pengabdi atau tim
    • Bagaimana menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait agar kemandirian dan kesiapan masyarakat dapat bertahan dan program dapat terus dikembangkan
  2. Impact evaluation
    Berdasarkan hasil evaluasi dari program hibah pengabdian masyarakat yang telah berjalan selama tahun 2009-2012, ditemukan adanya program pengabdian masyarakat yang tidak memiliki dampak terhadap masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara merancang program pengabdian masyarakat serta cara melihat dampak program yang dihasilkan.
  3. Managing various stakeholders
    Dalam melaksanakan program pengabdian masyarakat tim tidak dapat berdiri sendiri sehingga dibutuhkan keterlibatan para stakeholders agar program lebih efektif. Keterbatasan pengalaman dari para pengabdi serta sulitnya menjalin kerjasama dengan para pihak, membuat program menjadi tidak sustainabilty. Sesi ini akan difokuskan pada teknik pemetaan stakeholders dan bagaimana menjalin kerjasama sehingga dapat menghasilkan program pengabdian masyarakat yang lebih berkualitas dan sustainable.
  4. Penyusunan hasil program pengabdian masyarakat kedalam bentuk artikel ilmiah
    Artikel ilmiah hasil penelitian dengan artikel hasil pengabdian masyarakat sangatlah berbeda. Fokus pada sesi ini yaitu:
    • Jurnal apa saja yang dapat menjadi tujuan dari publikasi kegiatan pengabdian masyarakat
    • Strategi menulis artikel hasil pengabdian masyarakat agar dapat lolos untuk dipublikasi di jurnal internasional
    • Meningkatkan motivasi para dosen/pengabdi masyarakat untuk menulis artikel ilmiah hasil pengabdian masyarakat
    • Memberikan contoh-contoh artikel pengabdian masyarakat yang telah masuk di jurnal nasional dan internasional
  5. Engaging the mediaPasca program dibutuhkan laporan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Selain itu dibutuhkan pula publikasi terhadap program yang telah dilakukan agar perhatian dapat difokuskan ke program sehingga dapat mendorong efek berikutnya seperti follow up program, funding baru, perluasan program, dll. Agar program bisa terlihat efeknya, maka dibutuhkan keahlian untuk melibatkan peran media massa yang menjadi fokus sesi ini.
  6. Memaksimalkan penggunaan kamera saku sebagai media pelaporan dan publikasi
    Foto memegang peranan penting dalam menggambarkan kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan. Padahal, tidak semua pengabdi masyarakat memiliki keahlian fotografi yang handal. Sesi ini difokuskan untuk menggali fasilitas-fasilitas yang ada pada kamera saku untuk menghasilkan foto-foto yang berkualitas tinggi yang dapat digunakan secara efektif untuk pelaporan dan publikasi.  
Ketua FLipMAS dalam emailnya kepada jajaran FLipMAS seluruh Indonesia mempersilakan anggota FLipMAS untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sangat dimungkinkan pada kegiatan yang digagas DRPM UI ini sekaligus akan diadakan pertemuan Pimpinan FLipMAS Indonesia, FLipMAS Wilayah seluruh Indonesia untuk membahas peran dan gerak FLipMAS ke depan yang lebih berdaya. (Sumber: www.research.ui.ac.id/drpm/pengmas2012; Email Sunda94@gmail.com)    

Sabtu, 28 April 2012

FLipMAS HADIR MENYALAKAN NALAR BANGSA


Ketua FLipMAS Indonesia dengan Topi Ikat Masyarakat Adat Cireundeu  Cimahi


Rabu yang lalu  adalah Hari Lahir Ngayah Bali. Pada kesempatan seperti itu Ketua FLipMAS Indonesia Bapak Sundani Nurono Soewandi atas nama Bija Lompoa (Keluarga Besar) FLipMAS Indonesia telah menyampaikan Selamat Berulang Tahun melalui milis, semoga semakin dewasa dan sukses dalam dinamika pergaulan baik internal maupun eksternal Ngayah. Beliau berpesan untuk jangan lupa  terus bergerak penuh energi membantu MENYALAKAN NALAR BANGSA.


Pada berbagai kesempatan Ketua FLipMAS selalu menekakan bagaimana PROdikMAS perlu terus bersemangat, memahami masyarakat dengan tradisi-tradisi di dalamnya yang kadang 'Tidak Rasional', seolah ada kebuntuan jalan pemahaman yang nalar.  Kita diminta untuk bisa bekerja keras dengan iklas menyalakan nalar mereka,menyalakan nalar bangsa ini. Bersyukur semangat dosen untuk melakukan PPM mulai terstimulasi, terutama bila dilihat dari semangat penyelenggaraan Workshop Mandiri di berbagai FLipMAS Wilayah, Mulai penyelenggaraan di Mammiri (Sulawesi Selatan), Legowo (Jawa Timur), Jagadhita (Jogjakarta), Sabilulungan (Jawa Barat), Dianmas (Jawa Tengah), terus ada Klinik Proposal sebagai kelanjutan WS di Legowo, workshop lagi di Mammiri, Ngayah (Bali), Olah Bebaya (Kalimantan Timur), dan   FLipMAS Wilayah Leuser yang telah beralih nama menjadi MARTABE akan juga melaksanakan pada  4-5 Mei 2012 semoga sukses, ada informasi Paket dan Waket FI siap mengisi acara, WS sejenis juga akan dilakukan di Kupang tanggal 10-12 Mei 2012 yang diselenggarakan FLipMAS Hetfen sekaligus acara launching Hetfen oleh Rektor Undana. Semoga semua prodikmas yang telah bergulat dalam workshop di berbagai tempat itu diberi kesuksesan dan kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Bahkan berdasar email Ketua FLipMAS Indonesia DP2M telah memberikan kesempatan penyelenggaraan Workshop Pembuatan Proposal di 45 Perguruan Tinggi di berbagai Wilayah di Indonesia. 


Keberagaman kegiatan FLipMAS di berbagai wilayah telah dicoba komunikasikan melalui komunikasi dunia maya pada blog ini,  juga ada beberapa FLipMAS daerah yang telah membuat hal yang sama seperti Ngayah, Mammiri, Jagadhita, Olahbebaya, Sabilulungan, Legowo yang semua juga bisa diakses melalui tautan di blog FLipMAS Indonesia ini. Upaya ini mesti dipelihara dan perlu DIHIDUPI TERUS agar orang-orang yang ingin tahu tentang FLipMAS, yang umumnya akan mencarinya di dunia maya akan terpuaskan tanda tanyanya. 

Kini respons pembentukan FLipMAS wilayah mulai bermunculan. Beberapa daerah seperti Ambon, Mataram, Sultra, Jambi, Sumsel, Lampung, DKI Jaya, Kalsel, Lampung, masih ditunggu kabar dari NAD, Kalbar, Sulteng, Papua adealah daerah-daerah yang tertarik untuk membentuk FLipMAS.


Setidaknya menurut penjelasan Ketua FLipMAS Indonesia akan ada  kelahiran 11 FW baru yang proses kelahirannya agak berbeda dengan 9 FW eksisting memerlukan pemikiran banyak PROdikMAS khususnya para reviewer PPM Ditlitabmas. Dari data kinerja PPM PT tercatat wilayah dengan kegiatan PPM yang cukup aktif adalah:

1) Papua Barat, Manokwari dan sekitarnya dikomandani Unipa, siapa PROdikMAS wilayah tsb yang mampu menggerakkan FLipmas?

2) Ambon, dikomandani Universitas Muhammadiyah Darussalam, pak Lamuria dapat dipercaya untuk menggerakkan FLipMAS

3) Sulawesi Tenggara, Kendari dan sekitarnya, dikomandani Unhalu, Ketua LPMnya siap membentuk FLipMAS
4) Sulawesi Tengah, Palu dan sekitarnya, dikomandani Untad dan Unmuh Palu, p Burhanuddin Nasir sudah dihubungi untuk membentuk FLipMAS tetapi belum merespons. Ada nama lain?
5) Kalimantan Selatan, dikomandani Unlam, p Abdul Samad (mantan LPM Unlam) dan p Pahmi sudah dihubungi. p Samad siap membantu
6) Kalimantan Barat, dikomandani Untan dan Unmuh Pontianak, belum dikenali siapa yang dapat dimintai tolong membentuk FLipMAS di situ
7) DKI Jaya, dikomandani UI, Ketua DRPM UI akan dimintai bantuan membentuk FLipMAS di wilayah ini
8) Sumsel, Palembang dan sekitarnya, dikomandani Unsri, pak Satria sudah siap membantu membentuk FLipMAS
9) NTB, Mataram dan sekitarnya, dikomandani Unram, pak Joniarta siap membantu, respons LPM masih ditunggu
10) Lampung dan sekitarnya, dikomandani Politeknik Bandar Lampung, ada nama yang bisa membantu?
11) Jambi dan sekitarnya, dikomandani Unja, ada nama PROdikMAS di situ yang bisa membantu? ada ibu yang sekarang sudah menjadi staf ahli Asisten II Pemda tampaknya cocok menjadi penggerak FLipMAS, lupa namanya
12) Sumatera Barat, Padang dan sekitarnya, dikomandani Unand, beberapa nama sudah dihubungi tetapi FLipMAS belum juga terbentuk...hehehe. Ada usulan nama untuk membantu kita?
13) NAD, Banda Aceh dan sekitarnya, dikomandani Unsyiah (FI mengusulkan kepada pak Edison Purba untuk mengubah nama Leuser mengikuti nama FW lainnya sekaligus melepas NAD untuk membantuk FLipMAS sendiri), ada nama yang bisa membantu kita?


Wilayah NKRI lainnya masih mengerjakan PPM secara sporadis dan tidak kontinyu. Untuk sementara ditinggal dulu. Untuk 9 FW eksisting dibutuhkan kontribusinya pada pembentukan 11 FW baru agar level spirit dan keikhlasan membantu masyarakat bisa dibawa pada level yang sama tingginya. Terimakasih salam. (Dikompilasi dari milist FLipMAS) 


Minggu, 08 April 2012

RENUNGAN KETUA FLIPMAS INDONESIA





KELALIMAN PUNGGAWA

INTROSPEKSI Baru setapak jalan panjang tahun 2012 dilangkahi, belum lega paru-paru ini menghisap oksigen, bangsa ini sudah didera berjuta risau …hujan badai menertawakan perancah besi-besi kekar yang tegak menawarkan kenikmatan dunia, mencibiri tebing-tebing, dataran-daratan yang dibuat congkak ketololan penghuninya. Puting beliung mengolok-olok sinis pohon-pohon.

Satrya bertafakur, sangat prihatin pada nasib bangsanya. Bagaimanapun aku harus bisa menemukan titik urai kekusutan syaraf yang sudah membuat semua mahkluk di Nusapilu ini megap yang hanya satu terbilang namun sejuta hilang. Air bah kehilangan arah, tumpah ruah tanpa peduli. Kepergiannya meninggalkan duka nestapa, noda kemanusiaan. Mungkinkah bencana semesta Nusapilu bercermin pada tingkah polah para punggawa, senopati, raja diraja negeri ini? Ataukah semesta mengisyaratkan nestapa jika tingkah polah merisaukan para punggawa, senopati dan raja diraja tak juga usai?

Hehehe........Huahahahuahaha Batara Narada terbahak-bahak saat menyadari Satrya termangu galau hatinya…haiii satrya…siapa dirimu itu sehingga tak mampu menilai kecongkakan-mu? Kemarin aku sampaikan bahwa seluruh kedukaan dan keluhanmu itu, alami sifatnya. Tak ada yang keliru. Kau tanya tentang kelaliman punggawa, senopati bahkan raja diraja negeri? Ya batara…Coba jawab satrya, dari mana para punggawa, senopati dan raja dirajamu mendapatkan gelaran yang kamu katakan intelektual itu? Hayo jawab…Padepo-kanku hai Batara…Naah, mengapa kamu masih saja bertanya, dari mana tabiat itu mereka dapatkan? Dari mana satrya? Padepokanku hai Batara. Dari mana datangnya ketidak pedulian mereka pada rakyatnya hai satrya? Padepokanku hai Batara…Kamu dan padepokanmu saja tak pernah menyapa, tidak pernah memikirkan apalagi mengurus rakyat ke luar dari kesengsaraannya. Yang kamu urus juga cuma kepeng. Mengapa masih juga kamu tidak paham? Tapi Batara, aku tidak pernah mengajarkan, aku tidak pernah memfatwakan, aku tidak pernah menyabdakan kelaliman itu, bagaimana lalu aku bisa dikatakan mewarnai tingkah polah para punggawa, senopati dan raja diraja ne-geri? huahahahuahahaha…hai satrya masih dungu saja kamu itu…

Guru dan Mahaguru itu tidak hanya ditiru ajarannya, sabdanya, tulisannya, ucapannya, tetapi juga tingkah polahnya! Kamu paham satrya? Guru dan Mahaguru itu mungkin tidak mengajarkan, tidak memfatwakan dan juga tidak menyabdakan. Tetapi mereka semua mungkin men-. Aku harus bisa membekuk semua setan agar tak pernah mampu membonceng di lingkaran lagi…sebab lingkaran tanpa setan, sejatinya adalah harmoni. Hugh tapi bagaimana caranya? Tercenung Satrya saat melangkah. Pikirannya jernih tapi hati-nya galau. Padepokan penghasil kaum intelektual menuding punggawa, senopati bah-kan raja diraja lupa pada ajaran Guru dan Mahagurunya. Guru dan Mahaguru bersabda penuh supata. Tak pernah aku ajarkan kedurhakaan membasmi semesta dan sesa-ma. Tak pernah aku fatwakan kerakusan dan ketamakan penista semesta dan sesa-ma. Juga tak pernah aku sabdakan kemur-tadan pada Sang Pencipta. Tetapi mengapa punggawa, senopati, raja diraja negeri Nu-sapilu lalim seperti ini? Contohkan satrya-mencontohkan perilaku itu kepada cantrik-cantrik

Energi bebas satrya yang meninggi membuat wajahnya membara, tubuhnya menggigil akibat cibiran batara Narada. Hanya sejenak, energi bebas satrya melintasi puncak maksimumnya. Mendadak dia tertawa terba-hak-bahak, terpingkal-pingkal, berlarian, berlompatan liar. Air matanya ikut berleleran. Garanya…haaah. Tidak adakah sengketa di padepokanmu? Tidak adakah pelecehan hak asasi manusia di padepokan-mu? Tidak adakah kerakusan di padepokan-mu? Tidak adakah ketamakan di padepokanmu? Tidak adakah sifat pamer di padepokanmu? Tidak adakah tim sukses di pade-pokanmu? Coba kau renungkan lagi, seluruh karakter buruk punggawa, senopati dan raja diraja negeri, tidakkah kau temukan seluruhnya itu di padepokanmu? Huahahahuahahaha… Satrya, kalau sifat alami manusia itu mencontoh fakta padepokan yang tidak kamu sadari kekeliruannya, mengkristallah dia menjadi sifat durjana tanpa kamu ketahui, tanpa kamu sadari… hehehe…Hayo bantahlah satrya…

Sang satrya semakin termangu, teringat akan pepatah nenek moyangnya sendiri…Guru kencing berdiri, murid kencing ber-lari…ugh. Narada segera menimpali suara batin satrya. Hai satrya, mungkin lebih tepat jika pepatah itu kamu ganti dengan – murid kencing berlari, guru terkencing-kencing - weeelaa. Padepokankah titik kusut itu? Lalu siapa setannya ya? hehehe Ah kemana perginya batara Narada? Batara yang satu ini kalau aku memerlukan buah pikirnya eee dia pergi tanpa pamit. Giliran nalarku ngeheng dia datang ngeledek. Aha masih ada yang membuatmu galau satrya? Ya batara…apakah produk teknologi itu me-mang dimanfaatkan untuk menghadap Sang Khalik? Apa maksudmu? Begitu banyak rakyat Nusapilu ini tewas gara-garanya! Huaha-hahuahaha satrya, kamu itu betul-betul naif. Di negerimu ini menunggang hewan jauh lebih aman dibandingkan membonceng – produk teknologi katamu? Mengapa begitu batara? Sebab hewan tahu berterimakasih satrya, karena itu dia mudah kamu kendalikan. Tetapi produk teknologimu itu tak pernah tahu berterimakasih. Jadi kamu dikendalikannya…hahaha…...., dia mendengar kabar dari radio bututnya, harga BBM naik untuk menolong rakyat miskin…hahaha…Satrya terus tertawa, sampai akhirnya ambruk pingsan… (Sundani Nurono Suwandhi, dikutip dari Tabloid Kenangan Maret 2012)








Minggu, 01 April 2012

SEBUAH MODEL PEMBERDAYAAN YANG KOMPLEKS



Penggrajin Topeng Batik Binaan Flipmas Jagadhita
            Yogyakarta… Keragaman seni dan budayanya serta masyarakat yang majemuk tergambar jelas dalam lirik lagu “Yogya” karya Katon Bagaskara. Daerah Istimewa yang kental dengan tradisi budaya keraton ini  tak pernah terlupakan dalam sejarah NKRI. Serangan umum 1 Maret merupakan tonggak sejarah perjuangan bangsa. Karena itu pula,  FLipMAS yang lahir di kota ini Jagadhita memanfaatkan momen sejarah 1 Maret agar mudah diingat rekan-rekannya di seluruh musantara.
            Tak bisa dipungkiri bahwa FLipMAS merupakan sebuah model pemberdayaan yang kompleks. Cikal bakal Flipmas terbentuk di Bali pada tanggal 25 April 2010. Harapannya, Ipteks yang dibawa dari Perguruan Tinggi kepada masyarakat bisa terus dikembangkan. Misinya, mengintegrasikan dan mensinergikan kemahiran akademik, humanistik untuk kearifan lokal. Flipmas mempunyai kewajiban untuk memetakkan permasalahan kewilayahan, mensinergikan kemahiran akademik perguruan tinggi wilayah serta memandu dan membuka akses akademi bermasyarakat. Selain itu, Flipmas mengekspose kinerja forum kepada pemangku kepentingan kewilayahan melalui ekshibisi-ekshibisi  dan jurnal aplikasi ipteks.
Prodikmas Peserta WS
Gunarso Ketua Panitia
            Mengacu pada sebuah model pemberdayaan yang kompleks, FLipMAS Jagadhita menggelar Workshop Proposal bagi para Prodikmas di Yogyakarta dan sekitarnya pada tanggal 24-26 Februari 2012. Satu hal yang perlu dicermati dari rekan-rekan Jagadhita dalam pelaksanaan Workshop selama 3 hari tersebut adalah lokasi penyelenggaraan yang jauh dari kebisingingan dan pusat kota. Harapannya, peserta berkonsentrasi penuh pada materi yang disampaikan instruktur. Sebuah pemikiran yang sangat tepat tentunya. Mengingat, untuk mencapai lokasi “Wanagama” Hutan yang dikelola Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada harus menempuh jarak 23 kilometer dari pusat kota atau 45 menit perjananan.
            Pak Gunarso sebagai ketua panitia, agaknya pesimis dengan perolehan peserta yang hanya 40 orang. Tetapi perjuangannya untuk melaksanakan Workshop dengan persiapan yang relative singkat akhirnya terbayar mahal. Betapa tidak? Dengan 40 peserta tersebut selain peserta maksimal dalam menerima materi dari kedua instruktur handal Prof Sundani Nurono Suwandhi dan Pak Gatot, panitia juga  melayani peserta dengan maksimal. Yang mengagumkan, peserta terus menggali potensinya hingga betah begadang lewat pk 00 WIB. “Kalau tidak distop pertanyaan bakal terus mengalir………komentar Pak Sundani”. Untuk membuat peserta betah berjam-jam didalam kelas (karena memang tidak bisa keluar dari hutan) kedua instruktur dengan bijak meramu agar materi yang diberikan menyenangkan bahkan bisa ditangkap memori peserta dengan baik sambil diselingi guyonan khas mereka. Ada cerita tentang ayam dan sapi juga tentang dinosaurus yang mengundang geak tawa peserta.
            Workshop di Yogyakarta menurut penilaian sebagian teman cukup mahal karena peserta harus merogoh kocek Rp 750 ribu untuk 3 hari. Namun, Pak Gun (panggilan Gunarso, ketua panitia) punya alasan lain. Workshop ini sebagai tolok ukur, jika tidak benar-benar orang yang serius untuk menimba ilmu biaya Rp 750ribu akan dinilai mahal, tetapi bagi yang paham manfaatnya biaya senilai itu bukan apa-apa. Hal ini memang menjadi pertimbangan bagi panitia yang bekerja keras selama 2 minggu. Di bagian pernak-pernik, Bu Yuni dari Janabadra yang menjadi motor penggeraknya memang harus menjadi teladan bagi rekan-rekan di seluruh tanah air. Bukan hanya konsumsi, tempat penyelenggaraan tetapi untuk rekan-rekan FLipMAS yang hadir dilayani secara maksimal bahkan ada souvenir batik, sebuah daya pikat peserta dan kenangan yang tak mudak dilupakan oleh tamu dari FLipMAS lainnya.
            Peserta yang datang dengan beragam keahlian mulai dari bidang Eksak, homaniora hingga pekerja seni semuanya bermuara pada satu tujuan “Pengabdian Kepada Masyarakat”. Satu hal yang membuat Pak Gatot lega, seorang peserta yang hadir adalah pengajar dari Fakultas MIPA UGM. Hal ini disadari, karena Jagadhita yang dimotori Pak Gatot belum mampu menarik minat Prodikmas dari UGM. (Shanty)

Senin, 20 Februari 2012

WORKSHOP JAGADHITA DAN SABILULUNGAN



            Membaca millinglist FLipMAS yang makin hangat, jelas menggambarkan gairah PROdikMAS makin menggembirakan dan menyala-nyala. Menggagas dan kerja langsung di masyarakat memang ‘ndatuki dan nulari’, membuat orang yang terjun makin ingin terjun, buat yang terstimulasi akan mencoba. Karena kerja di Pengabdian Masyarakat memiliki nilai yang lebih ‘menantang dan memuaskan’ disbanding berkutat di laboratorium atau kelas. Manakala kita sudah bisa membedah problematika dasar masyarakat dan mengkonstruksi solusi lalu merealisasikan hingga masyarakat berkurang atau terlepas dari problematikannya, maka nilai kerja kita akan bisa langsung terukur. Berbondong-bondongnya PROdikMAS mengikuti Workshop PPM yang diselenggarakan beberapa FLipMAS Wilayah, juga merupakan pertanda awal meningkatnya minat Program Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat  DP2M Dikti.
            Dalam waktu dekat, adalah FLipMAS Jagadhita Yogyakarta yang akan menyusul menyelenggarakan Workshop Penyusunan Proposal PPM yaitu pada tanggal 24-26 Februari 2012. Teman-teman Jagadhita langsung merespon Ketua FLipMAS Indonesia Prof. Sundani Nurono Suwandhi yang merekomendasikan penyelenggaraan Workshop selayaknya 3 hari dan sekaligus ada kegiatan kunjungan lapang ke lokasi kegiatan pengabdian. Jagadhita akan mengajak peserta workshop mengunjungi Hutan Alam Wanagama Gunung Kidul. Bagi teman-teman FLipMAS yang berkeinginan mengikuti Workshop Jagadhita bisa menghubungi Pak Husain (Hp 081392008200). Bila dilihat dari jadwal acara, peserta akan dipuaskan dengan waktu yang cukup untuk penjelasan dan  konsultasi proposal.
            Waktu berikutnya, menyusul  FLipMAS Sabilulungan akan mengelenggarakan juga Workshop Penyusunan Proposal PPM yaitu pada tanggal 34 Maret 2012 bertempat di LPPM UPI Jl. Setiabudi Bandung.  Workshp menghadirkan pemateri dari DP2M Dikti, Prof. Sundani Nurono Suwandhi, Ir. Gatot Murdjito, MSc, Dr. Tendy Ramadhan, Bappeda Jawa Barat, CSR.  Peserta juga akan diajak melihat dari dekat Desa Tradisi binaan PROdikMAS Sabilulungan sebagai pengayaan materi workshop yang sekaligus bisa menjadi inspirasi pengembangan wilayah lainnya. Bagi PROdikMAS di Jawa Barat  dan sekitarnya, juga teman-teman FLipMAS se Indonesia yang berkenan ikut bisa menghubungi Ibu Marleen (0811247755).
            Penyelenggaraan Workshop PPM oleh FLipMAS yang banyak diminati peserta walaupun mereka harus membayar,  juga pengalaman penyelenggaraan di Malang bahwa antusias peserta menyimak dan diskusi sangat terasa. Semestinya bisa menjadi evaluasi workshop-workshop yang diselenggarakan DP2M. yang cenderung gratis bahkan semua dibiayai pemerintah termasuk biaya transportasi berangkat dan kepulangan peserta.  Tetapi semangat berworkshopnya konon terasa kurang entah karena apa, mungkin bisa jadi karena  memenuhi formalitas penugasan bukan karena kebutuhan.

Selasa, 07 Februari 2012

WORKSHOP PENYUSUNAN PROPOSAL PPM LEGOWO DINILAI SUKSES OLEH KETUA FLIipAS INDONESIA




            Menarik mencermati catatan Ketua FLipMAS Indonesia Sundani Nurono Suwandhi (SNS) di milis FLipMAS, setidaknya bila disimak dari pesan agar Legowo  bisa berbagi kiat sukses kepada FLipMAS Wilayah lainnya. Bagaimana bisa dianggap sukses kegiatan Workshop Penyusunan Proposal PPM yang dilakukan FLipMAS Legowo ? Setidaknya bisa dicermati dari ukuran: 1). Jumlah Peserta 145 PROdikMAS, 28 panitia yang juga rajin menyimak seluruh pemateri; 2). Melibatkan 30 Perguruan Tinggi negeri dan swasta; 3). Peserta antusias hingga tengah malam; 4). Terjalin komunikasi dengan BAPEPROF Jawa Timur dan CFCD (Corporate Forum Community Development); 5). Peserta mau membayar dan berdampak banyak peserta bersemangat menjadi anggota FLipMAS Legowo.
            Adalah berkat strategi Adi Sutanto (Ketua FLipMAS Legowo) dan Sigit Darsono (Ketua Panitia) yang mampu menggerakan panitia inti pelaksana WS. Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan Seminar Konservasi Air dan Tanah, strategi ‘distribusi’ tanggung jawab dilontarkan di beberapa pertemuan menggagas dan perencanaan WS. Intinya bahwa penyelenggaraan WS harus mandiri, peserta harus membayar dan panitia harus berani bertanggung jawab bila ‘tekor’ nantinya. Panitia inti setuju dan berkalkulasi, termasuk masing-masing PT pendukung mampu membawa peserta berapa ? Kemudian pembuatan brosur dilakukan, blog dibuat, dan pengiriman brosur ke PT se-jawa timur dilakukan, komunikasi aktif ke orang per-orang, lembaga ke lembaga dilakukan terus menerus. Pada sisi yang lain juga dilakukan mobilisasi rintisan kerjasama dengan pemerintah daerah dalam rangka pembuatan proposal IbW (Iptek bagi Wilayah) yang menjadi stimulant beberapa PROdikMAS lain untuk mengikuti workshop. Alhasil seminggu sebelum penutupan pendaftaran, peserta sudah melebihi target, yang semula dipatok maksimal 120 peserta, membengkak menjadi 145 orang, karena harus menghargai peserta dari Papua, Mataran, Sulawesi Selatan, Bali dan Jogjakarta. Puluhan calon peserta terutama dari Surabaya terpaksa harus kecewa karena tidak tertampung ikut serta.
            Workshop menghadirkan nara sumber Ketua FLipMAS Indonesia Prof. Dr. Sundani Nurono Suwandhi (ITB), Wakil Ketua FLipMAS Indonesia  Ir. Gatot Murjito, MS (UGM), Ir. Fajar Kurniawan (Kabid Riset dan Pemberdayaan Corporate Forum Community Development (CFCD), Ir. Handoko, MSi dari Bapeprof Jawa Timur, Ir. I Ketut Sardiana (Ketua FLipMAS Ngayah Bali) dan Asmi Citra Malina SPi. MAgr. PhD. (Ketua FLipMAS Mammiri). FLipMAS lain yang ikut menghadiri kegiatan Legowo di Kota Batu  adalah FLipMAS Jagadhita ( Husen), Dianmas (Edi Kurniadi). Peserta diajak memahami secara cerdas bersama-sama pemerintah daerah, masyarakat, pengusaha, CSR untuk bagaimana bisa berperan membantu mencari solusi rasional yang ada di masyarakat. Juga diingatkan sebagai PROdikMAS yang memungkinkan membangun dan memiliki jejaring antar Perguruan Tinggi, memiliki kesempatan mengakses dana pengabdian dari DIKTI untuk membantu mensejahterakan dan memandirikan masyarakat. Karena semestinya dunia pengabdian kepada masyarakat merupakan hal yang terpenting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena pengembangan ilmu menuntut ranah ‘aksiologi’ yaitu ranah manfaat yang ujinya tentu pada masyarakat.
            Mengelola penyelenggaraan kegiatan workshop penyusunan proposal oleh FLipMAS Legowo yang baru uji coba yang pertama, bukan hal mudah, apalagi dengan semangat kemandirian, tidak menggantungkan dana dari ‘asupan’ kampus tempat pengurus FLipMAS Legowo  bekerja.  Ada rasa takut rugi dan pengurus harus menanggung. Kegiatan bisa ringan dan tidak harus merugi dengan adanya komitmen kerja seluruh panitia; rencana yang terukur dan terevaluasi; narasumber yang tepat; bantuan pihak hotel yang tidak sekedar kooperatif tapi juga memberi keringanan harga, hal tersebut karena pemilik hotel adalah teman salah satu pengurus FLipMAS Legowo; bantuan beberapa pengurus menyangkut sarana dan prasarana yang tidak ternominalkan untuk dibayar; kooperatif dari perguruan tinggi se Jawa Timur yang mengirimkan peserta; dan fleksibelitas penyelenggaraan menyesuaikan kondisi harapan peserta workshop, seperti ketika diketahui tidak banyak peserta yang membawa proposal untuk ‘diklinikan’ maka hari kedua diubah jadwalnya untuk paparan yang lebih penting.
            Hal yang dirasa kurang dari workshop Legowo tentu dirasakan oleh beberapa peserta yang telah siap konsultatif dengan proposal yang telah dibawanya, karena bagi mereka workshop jadi tidak maksimal.  Tetapi antisipasi telah diberikan pada mereka agar proposal mereka bisa ditelaah langsung oleh narasumber langsung. Sangat disayangkan tidak semua peserta yang membawa proposal memanfaatkan hal itu, tetapi bisa difahami melalui penjelasan yang runtut dan diskusi yang mengalir bisa jadi mereka akhirnya mengetahui kelemahan dan kekurangan proposal masing-masing. Panitia juga menyadari tidak mampu memuaskan semua peserta, tentu koreksi dari peserta menyangkut layanan dan fasilitas menjadi catatan penting agar ke depan lebih baik. Masukan-masukan dari Ketua FLipMAS Indonesia bapak Sundani Nurono Suwandhi menyangkut posisi kesekretariatan, lamanya kegiatan, klasifikasi peserta, dan lain-lain  telah menjadi pemahaman Legowo untuk penyelenggaraan yang lebih baik di kemudian hari.  

Rabu, 25 Januari 2012

Oleh-Oleh Dari SULSEL


PERTEMUAN NASIONAL FLIPMAS DI MAKASAR
DAN KUNJUNGAN KE BULUKUMBA

                Pada tanggal 11-13 Januari yang lalu, jajaran pengurus FLipMAS seluruh Indonesia berkumpul di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan atas inisitif FLipMAS Mammiri yang juga tengah merayakan ulang tahun pertamanya. FLipMAS Mammiri memang baru berumur 1 tahun, tapi kehadirannya telah diterima antusias masyarakat Sulawesi Selatan. Terbukti pertemuan nasional FLipMAS sangat diapresiasi oleh Kepala BALITBANGDA Propinsi Sulawesi Selatan yang menghadiri pembukaan pertemuan, juga Bupati Bulukumba yang memfasilitasi kunjungan seluruh peserta pertemuan nasional di Bulukumba, serta dengan penerimaan Ammatoa yang memimpin masyarakat tradisi di Kecamatan Kajang yang kukuh menjunjung tradisi menolak masuknya teknologi ke masyarakat ‘tana tua’ dalam.
                Agenda pertemuan nasional, berjalan sesuai rencana. Dimulai dengan paparan perkembangan FLipMAS secara umum di tingkat nasional oleh Ketua FLipMAS Indonesia Sundani Nurono Suwandhi (SNS), pengalaman I Ketut Sardiana dari FLipMAS Ngayah tentang bagaimana melakukan pemetaan wilayah, kemudian dilanjutkan dengan perbincangan tentang ‘Jurnal Kegiatan Pengabdian’ yang pada momen akhir tahun dibahas di 5 tempat yang berbeda (Jogja, Malang, Bali, Makasar, dan Samarinda Kaltim). Pada paparannya Ketua FLipMAS Indonesia menekankan tentang tantangan berat FLipMAS yaitu bagaimana bisa mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat.  FLipMAS mempunyai kewajiban ikut memecah problematika masyarakat, seperti hal sederhana mencerahkan tradisi yang tidak bisa dirasionalkan seperti ‘mengapa ari-ari bayi harus digantung di pohon tertentu di masyarakat Bali, ditanam di bawah pohon kelapa di masyarakat Bugis,di jawa dikubur di depan rumah diterangi lampu selama 7 hari dan lain-lain.
                 Dalam pertemuan itu yang cukup hangat dibincangkan adalah masalah bagaimana format ‘jurnal pengabdian’ yang akan menjadi salah satu corong kegiatan FLipMAS. Hasil workshop di lima tempat tersimpul bahwa artikel pengabdian ‘perlu diperkaya data’ yang bersumber dari kajian dalam kegiatan pengabdian. Mengapa harus begitu ? Bila demikian ada yang berpendapat bahwa di dalam pengabdian ada ‘penelitian’, apa harus demikian ? Muncul gagasan bagaimana ‘prodikmas’ membangun sendiri format penulisan artikel pengabdian. Tentu ini tidak mudah, karena umumnya di benak masyarakat ‘penggiat jurnal’, bahwa artikel jurnal  ya ‘identik’ dengan ‘karya ilmiah’ yang ada dan lazim mengisi jurnal penelitian pada umumnya.  Peserta yang hadir mengharapkan ada pengecualian, karena jurnal pengabdian tentu boleh beda, yang penting asal kaidah ilmiahnya terpenuhi, dan kaidah ilmiah bukan harga mati, yang bisa kita formulasi dengan tetap bertumpu rasionalitas yang benar dan bertanggung jawab. Apa salahnya juga ikut mengacu pada beberapa kaidah yang telah berkembang di jurnal-jurnal penelitian dan cocok untuk pengabdian.
                Sesungguhnya format jurnal pengabdian telah diinisiasi oleh Ketua FLipMAS Indonesia SNS dan telah diadopsi oleh beberapa ‘Jurnal’ FLipMAS yang telah terbit misalnya Ngayah, Jagadhita, dan Olahbebaya. Formatnya sederhana, yaitu: Pendahuluan (berisi: Analisis Situasi dan justifikasi, Tujuan dan Sumber Pustaka/Rujukan); Metode (berisi: Langkah dan Waktu Pelaksanaan); Hasil dan Pembahasan (berisi: Aplikasi Iptek, Rekayasa Alat, Sistem, Manajemen, dan Dampak yang ditimbulkan); Simpulan dan Saran dan terakhir Daftar Pustaka / Rujukan. Analisis situasi sangat ‘urgen’ dalam pengabdian, karena ini yang menjadi ketajaman pengabdi memahami problematika masyarakat, demikian juga metode dan dampak yang ditimbulkan. Orisinalitas karya barangkali tidak bisa seperti penelitian, pengabdian memungkinkan menggunakan aplikasi iptek yang sama tetapi lokasi, analisis situasi, pendekatan, respon masyarakat dan dampak sangat memungkinkan berbeda. Perbedaan ini, menjadi menarik sebagai pengetahuan pengabdi, untuk itu selayaknya ‘artikelnya’ bisa dihargai sebagai hal yang berbeda. Mudah-mudahan di kemudian hari, pengkristalan kesepakatan memperkuat ‘format’ jurnal pengabdian bisa segera dirumuskan.

Kapal Pinisi dan Tana Toa Kajang
                Pasca pertemuan nasional, kami dengan mengendarai 2 bus dan beberapa mobil beriringan menuju Kabupaten Bulukumba. Kurang lebih perjalanan ditempuh selama 6 jam karena sepanjang jalan banyak simpul-simpul jalan yang macet. Bahkan bus yang aku tumpungi terlambat hingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan Bupati Bulukumba. Tetapi dengar dari beberapa teman, terbetik cerita bahwa Bapak Bupati Bulukumba sangat apresiatif dengan rombongan FLipMAS.  Mereka berharap FLipMAS dapat menjadi mitra dalam melakukan perubahan pada masyarakatnya. Ramah tamah di Bulukumba ternyata juga membuka tabir bahwa para penggiat FLipMAS  juga mampu melantunkan suara emasnya. Tidak kalah dengan Ayu Ting Tong……heee.
                Di Bulukumba rombongan dibawa melihat daerah tempat masyarakat membuat kapal legendaries masyarakat ‘Makasar’ yaitu kapal Pinnisi. Di tempat ini kita disadarkan bahwa tradisi masyarakat kita telah diakui kehebatannya. Pemesan kapal Pinnisi tidak saja dari masyarakat Indonesia tetapi juga datang dari berbagai belahan dunia. Berbagai model kapal dapat dibuat sesuai pesanan, ada yang untuk kapal penangkap ikan dan ada pula yang untuk kapal pesiar. Ukuran juga bervariasi dari ukuran kecil hingga sebesar ferri antar pulau. Pendekatan pembuatan sangat ‘pragmatis’ yang penting fungsi, menggunakan ilmu gathuk mathuk (kata orang jawa).
                Dari kapal pinisi perjalanan dilanjutkan ke kecamatan Kajang tepatnya untuk melihat lebih dekat masyarakat tradisi ‘taha toa’. Memasuki kawasan Tana Toa seluruh rombongan disarankan menggunakan baju gelap kalau hitam lebih baik, warna menyolok tidak diperkenankan. Kenapa ? Jangan Tanya karena hal itu sudah berlaku turun temurun. Mungkin itu ada kaitannya dengan kesejarahan ‘masyarakat tana toa’, konon masyarakat ini adalah masyarakat yang sengaja mengisolasi dari ketidakberaturan hidup masyarakat pada waktu itu. Kondisi yang liar mendorong mereka membentuk masyarakat yang beraturan hingga kini. Mungkin warna menyala / norak termasuk warna yang berkonotasi panas, beringas yang mereka hindari, atau bisa jadi pilihan warna hitam untuk memudahkan bersembunyi dan warna cerah mudah terlihat.
                Sementara teman-teman ke rumah Ammatoa, saya diberkenalan dengan anak muda Tana Toa yang kemudian antusias menemani keliling kampung. Alhasil aku dapat tontonan beragam anggrek di hutan-hutan Tana Toa; wow….ada Grammatophyllum scriptum, Cymbidium finlaysonianum, Vanda dearii,  Bulbophyllum vaginatum, Dipodium fictum, Eria densa, Liparis latifolia, serta anggrek-anggrek yang lain yang menggerombol di pohon-pohon besar. Keberuntungan juga ketika jalan-jalan di antara rumah masyarakat dalam suku kajang ini penulis berkenalan dengan  Camat Kajang dan dikenalkan dengan beberapa beberapa ‘Juru’ yang membantu Ammatoa salah satunya adalah Galla Puto yaitu Juru Bicara Tana Toa. Dari sang juru bicara inilah aku mengetahui beberapa hal tentang Tana Toa, beliau besama Bapak Camat dan sepertinya ajudannya dengan tekun menjelaskan berbagai hal tentang Tana Toa termasuk menuliskan lafal bahasa yang aku tidak mudeng. Dalam komunikasi harian masyarakat Suku Kajang  menggunakan bahasa Konjo. Bahasa konjo merupakan salah satu rumpun bahasa Makassar yang berkembang tersendiri dalam suatu komunitas masyarakat.
                Menurut Galla Puto umumnya masyarakat adat Tana toa hidup dari bertani dan memelihara hewan ternak. Kehidupan mereka sangat sederhana, tercermin dari misalnya rumah mereka yang sangat sederhana, tiap rumah hanya memiliki satu tangga berikut pintu masuk dibagian depan. Pada bagian dalam tidak ada kamar, yang ada hanyalah dapur yang terdapat pada bagian depan rumah tepat di sebelah kiri pintu masuk. Penempatan dapur di dekat pintu mengandung filosofis bahwa Orang Kajang sangat mamuliakan dapur sebagai sumber kehidupan. Tidak adanya sekat ruangan memiliki makna bahwa orang Kajang ingin menunjukkan sikap keterbukaannya kepada para tamu yang datang.

                Masyarakat kawasan adat Tana Toa dipimpin oleh Ammatoa yang sangat dipatuhi. Ammatoa berarti bapak atau pemimpin yang dituakan. Ammatoa memegang tampuk kepemimpinan di Tana Toa sepanjang hidupnya terhitung sejak dia dinobatkan. Ammatoa bukanlah pemimpin yang dipilih oleh rakyat melainkan seseorang yang diyakini mendapat berkah dari Yang Kuasa.  Apabila seorang Ammatoa meninggal dunia, maka Ammatoa berikutnya akan ada lagi tiga tahun kemudian. Dalam masa tiga tahun, para tetua adat akan melihat-lihat orang sekitar yang diyakini memiliki ciri-ciri tertentu yang biasanya terdapat pada seorang calon Ammatoa. Setelah masa tiga tahun, para calon Ammatoa yang telah terpilih dikumpulkan, lalu seekor ayam yang telah dilepas pada penobatan terdahulu didatangkan lagi, lalu ayam tersebut dilepas kembali, ketika ayam tersebut lepas dan hinggap pada seorang calon Ammatoa, maka dialah yang menjadi Ammatoa.
                Sebagai tetua adat Ammatoa tidak sendirian, tetapi didampingi oleh dua orang Anronta, masing-masing Anronta Ribungkina dan Anronta Ripangi serta 26 orang pemangku adat. Ke-26 orang pemangku adat ini antara lain Galla Puto yang bertugas sebagai wakil atau sekretaris sekaligus juru bicara dan Galla Lombo yang bertugas untuk urusan luar dan dalam kawasan. Selain itu ada Galla Kajang yang mengurusi masalah keagamaan, Galla Pantama untuk urusan pertanian, dan Galla Meleleng untuk urusan perikanan. Yang jelas di Tana Toa sudah ada tatanan, dan tatanan tersebut benar-benar dijunjung dengan teguh, ditaati bersama, bagi yang melanggar juga ada sangsi sesuai hokum adat. Ada beberapa hukum adat, mulai dari hukuman paling ringan sampai paling berat. Hukuman paling ringan atau disebut juga cappa babala adalah keharusan menbayar denda sebesar 12 real ditambah satu ekor kerbau. Satu tingkat diatasnya adalah tangga babala dengan denda 33 real ditambah satu ekor kerbau, denda paling tinggi adalah poko babala yang diharuskan membayar 44 real ditambah dengan seekor kerbau. real yang digunakan dalam hal ini adalah nilainya saja, karena uang yang digunakan adalah uang benggol yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan.
                Juga ada dua bentuk hukuman lain di selain hukuman denda yaitu: tunu panroli dan tunu Passau. Tunu panroli biasanya dilakukan bagi kasus pencurian bertujuan untuk mencari palakunya. Caranya seluruh masyarakat harus memegang linggis yang membara setelah dibakar. Jika tersangka lari dari hukuman dengan meninggalkan kawasan adat Tana Toa, maka pemangku adat akan menggunakan tunu Passau. Caranya Ammatoa akan membakar kemenyan dan membaca mantra yang dikirimkan ke pelaku agar jatuh sakit atau meninggal secara tidak wajar. Adanya hukum adat dan pemimpin yang sangat tegas dalam menegakkan hukum membuat masyarakat kawasan adat Tana Toa sangat tertib dan mematuhi segala peraturan dan hukum adat.
                Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Tana Toa memegang teguh pasanga ri Kajang (pesan di Kajang) yang juga adalah ajaran leluhur mereka. Isi pasanga ri Kajang yaitu:
  1. Tangurangi mange ri turiea arana, yang berarti senangtiasa ingat pada Tuhan Yang Berkehendak.
  2. Alemo sibatang, abulo sipappa, tallang sipahua, manyu siparampe, sipakatau tang sipakasiri, yang artinya memupuk persatuan dan kesatuan dengan penuh kekeluargaan dan saling memuliakan.
  3. Lambusu kigattang sabara ki pesona, yang artinya bertindak tegas tetapi juga sabar dan tawakkal.
  4. Sallu riajoka, ammulu riadahang ammaca ere anreppe batu, alla buirurung, allabatu cideng, yang artinya harus taat pada aturan yang telah dibuat secara bersama-sama kendati harus menahan gelombang dan memecahkan batu gunung
  5. Nan digaukang sikontu passuroangto mabuttayya, yang artinya melaksanakan segala aturan secara murni dan konsekuen.
                Menarik sekali, masyarakat suku Kajang yang dianggap ‘kuno’  dan menutup diri dari gempuran modernisasi zaman ternyata  memiliki ‘hal adi luhung’ yang makin banyak ditinggalkan masyarakat modern. Lima poin pasanga ri Kajang rasanya perlu menjadi pembelajaran buat kita ‘kumpulan PROdikMAS’ yang seperti masyarakat Tana Toa dulu, mengisolir menjauhi kegaduhan dan kesemrawutan, PROdikMAS berkumpul mengaktualisasi diri meninggalkan menara gading PT yang jauh dari akar rumput masyarakat, bisakah kita menelurkan ‘pasanga ri FLipMAS’ yang bisa menggawangi misi dan vifi FLipMAS ? Ini Tantangan, jangan kalah dengan Suku Kajang. Heeee !!!!!