Senin, 20 Februari 2012

WORKSHOP JAGADHITA DAN SABILULUNGAN



            Membaca millinglist FLipMAS yang makin hangat, jelas menggambarkan gairah PROdikMAS makin menggembirakan dan menyala-nyala. Menggagas dan kerja langsung di masyarakat memang ‘ndatuki dan nulari’, membuat orang yang terjun makin ingin terjun, buat yang terstimulasi akan mencoba. Karena kerja di Pengabdian Masyarakat memiliki nilai yang lebih ‘menantang dan memuaskan’ disbanding berkutat di laboratorium atau kelas. Manakala kita sudah bisa membedah problematika dasar masyarakat dan mengkonstruksi solusi lalu merealisasikan hingga masyarakat berkurang atau terlepas dari problematikannya, maka nilai kerja kita akan bisa langsung terukur. Berbondong-bondongnya PROdikMAS mengikuti Workshop PPM yang diselenggarakan beberapa FLipMAS Wilayah, juga merupakan pertanda awal meningkatnya minat Program Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat  DP2M Dikti.
            Dalam waktu dekat, adalah FLipMAS Jagadhita Yogyakarta yang akan menyusul menyelenggarakan Workshop Penyusunan Proposal PPM yaitu pada tanggal 24-26 Februari 2012. Teman-teman Jagadhita langsung merespon Ketua FLipMAS Indonesia Prof. Sundani Nurono Suwandhi yang merekomendasikan penyelenggaraan Workshop selayaknya 3 hari dan sekaligus ada kegiatan kunjungan lapang ke lokasi kegiatan pengabdian. Jagadhita akan mengajak peserta workshop mengunjungi Hutan Alam Wanagama Gunung Kidul. Bagi teman-teman FLipMAS yang berkeinginan mengikuti Workshop Jagadhita bisa menghubungi Pak Husain (Hp 081392008200). Bila dilihat dari jadwal acara, peserta akan dipuaskan dengan waktu yang cukup untuk penjelasan dan  konsultasi proposal.
            Waktu berikutnya, menyusul  FLipMAS Sabilulungan akan mengelenggarakan juga Workshop Penyusunan Proposal PPM yaitu pada tanggal 34 Maret 2012 bertempat di LPPM UPI Jl. Setiabudi Bandung.  Workshp menghadirkan pemateri dari DP2M Dikti, Prof. Sundani Nurono Suwandhi, Ir. Gatot Murdjito, MSc, Dr. Tendy Ramadhan, Bappeda Jawa Barat, CSR.  Peserta juga akan diajak melihat dari dekat Desa Tradisi binaan PROdikMAS Sabilulungan sebagai pengayaan materi workshop yang sekaligus bisa menjadi inspirasi pengembangan wilayah lainnya. Bagi PROdikMAS di Jawa Barat  dan sekitarnya, juga teman-teman FLipMAS se Indonesia yang berkenan ikut bisa menghubungi Ibu Marleen (0811247755).
            Penyelenggaraan Workshop PPM oleh FLipMAS yang banyak diminati peserta walaupun mereka harus membayar,  juga pengalaman penyelenggaraan di Malang bahwa antusias peserta menyimak dan diskusi sangat terasa. Semestinya bisa menjadi evaluasi workshop-workshop yang diselenggarakan DP2M. yang cenderung gratis bahkan semua dibiayai pemerintah termasuk biaya transportasi berangkat dan kepulangan peserta.  Tetapi semangat berworkshopnya konon terasa kurang entah karena apa, mungkin bisa jadi karena  memenuhi formalitas penugasan bukan karena kebutuhan.

Selasa, 07 Februari 2012

WORKSHOP PENYUSUNAN PROPOSAL PPM LEGOWO DINILAI SUKSES OLEH KETUA FLIipAS INDONESIA




            Menarik mencermati catatan Ketua FLipMAS Indonesia Sundani Nurono Suwandhi (SNS) di milis FLipMAS, setidaknya bila disimak dari pesan agar Legowo  bisa berbagi kiat sukses kepada FLipMAS Wilayah lainnya. Bagaimana bisa dianggap sukses kegiatan Workshop Penyusunan Proposal PPM yang dilakukan FLipMAS Legowo ? Setidaknya bisa dicermati dari ukuran: 1). Jumlah Peserta 145 PROdikMAS, 28 panitia yang juga rajin menyimak seluruh pemateri; 2). Melibatkan 30 Perguruan Tinggi negeri dan swasta; 3). Peserta antusias hingga tengah malam; 4). Terjalin komunikasi dengan BAPEPROF Jawa Timur dan CFCD (Corporate Forum Community Development); 5). Peserta mau membayar dan berdampak banyak peserta bersemangat menjadi anggota FLipMAS Legowo.
            Adalah berkat strategi Adi Sutanto (Ketua FLipMAS Legowo) dan Sigit Darsono (Ketua Panitia) yang mampu menggerakan panitia inti pelaksana WS. Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan Seminar Konservasi Air dan Tanah, strategi ‘distribusi’ tanggung jawab dilontarkan di beberapa pertemuan menggagas dan perencanaan WS. Intinya bahwa penyelenggaraan WS harus mandiri, peserta harus membayar dan panitia harus berani bertanggung jawab bila ‘tekor’ nantinya. Panitia inti setuju dan berkalkulasi, termasuk masing-masing PT pendukung mampu membawa peserta berapa ? Kemudian pembuatan brosur dilakukan, blog dibuat, dan pengiriman brosur ke PT se-jawa timur dilakukan, komunikasi aktif ke orang per-orang, lembaga ke lembaga dilakukan terus menerus. Pada sisi yang lain juga dilakukan mobilisasi rintisan kerjasama dengan pemerintah daerah dalam rangka pembuatan proposal IbW (Iptek bagi Wilayah) yang menjadi stimulant beberapa PROdikMAS lain untuk mengikuti workshop. Alhasil seminggu sebelum penutupan pendaftaran, peserta sudah melebihi target, yang semula dipatok maksimal 120 peserta, membengkak menjadi 145 orang, karena harus menghargai peserta dari Papua, Mataran, Sulawesi Selatan, Bali dan Jogjakarta. Puluhan calon peserta terutama dari Surabaya terpaksa harus kecewa karena tidak tertampung ikut serta.
            Workshop menghadirkan nara sumber Ketua FLipMAS Indonesia Prof. Dr. Sundani Nurono Suwandhi (ITB), Wakil Ketua FLipMAS Indonesia  Ir. Gatot Murjito, MS (UGM), Ir. Fajar Kurniawan (Kabid Riset dan Pemberdayaan Corporate Forum Community Development (CFCD), Ir. Handoko, MSi dari Bapeprof Jawa Timur, Ir. I Ketut Sardiana (Ketua FLipMAS Ngayah Bali) dan Asmi Citra Malina SPi. MAgr. PhD. (Ketua FLipMAS Mammiri). FLipMAS lain yang ikut menghadiri kegiatan Legowo di Kota Batu  adalah FLipMAS Jagadhita ( Husen), Dianmas (Edi Kurniadi). Peserta diajak memahami secara cerdas bersama-sama pemerintah daerah, masyarakat, pengusaha, CSR untuk bagaimana bisa berperan membantu mencari solusi rasional yang ada di masyarakat. Juga diingatkan sebagai PROdikMAS yang memungkinkan membangun dan memiliki jejaring antar Perguruan Tinggi, memiliki kesempatan mengakses dana pengabdian dari DIKTI untuk membantu mensejahterakan dan memandirikan masyarakat. Karena semestinya dunia pengabdian kepada masyarakat merupakan hal yang terpenting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena pengembangan ilmu menuntut ranah ‘aksiologi’ yaitu ranah manfaat yang ujinya tentu pada masyarakat.
            Mengelola penyelenggaraan kegiatan workshop penyusunan proposal oleh FLipMAS Legowo yang baru uji coba yang pertama, bukan hal mudah, apalagi dengan semangat kemandirian, tidak menggantungkan dana dari ‘asupan’ kampus tempat pengurus FLipMAS Legowo  bekerja.  Ada rasa takut rugi dan pengurus harus menanggung. Kegiatan bisa ringan dan tidak harus merugi dengan adanya komitmen kerja seluruh panitia; rencana yang terukur dan terevaluasi; narasumber yang tepat; bantuan pihak hotel yang tidak sekedar kooperatif tapi juga memberi keringanan harga, hal tersebut karena pemilik hotel adalah teman salah satu pengurus FLipMAS Legowo; bantuan beberapa pengurus menyangkut sarana dan prasarana yang tidak ternominalkan untuk dibayar; kooperatif dari perguruan tinggi se Jawa Timur yang mengirimkan peserta; dan fleksibelitas penyelenggaraan menyesuaikan kondisi harapan peserta workshop, seperti ketika diketahui tidak banyak peserta yang membawa proposal untuk ‘diklinikan’ maka hari kedua diubah jadwalnya untuk paparan yang lebih penting.
            Hal yang dirasa kurang dari workshop Legowo tentu dirasakan oleh beberapa peserta yang telah siap konsultatif dengan proposal yang telah dibawanya, karena bagi mereka workshop jadi tidak maksimal.  Tetapi antisipasi telah diberikan pada mereka agar proposal mereka bisa ditelaah langsung oleh narasumber langsung. Sangat disayangkan tidak semua peserta yang membawa proposal memanfaatkan hal itu, tetapi bisa difahami melalui penjelasan yang runtut dan diskusi yang mengalir bisa jadi mereka akhirnya mengetahui kelemahan dan kekurangan proposal masing-masing. Panitia juga menyadari tidak mampu memuaskan semua peserta, tentu koreksi dari peserta menyangkut layanan dan fasilitas menjadi catatan penting agar ke depan lebih baik. Masukan-masukan dari Ketua FLipMAS Indonesia bapak Sundani Nurono Suwandhi menyangkut posisi kesekretariatan, lamanya kegiatan, klasifikasi peserta, dan lain-lain  telah menjadi pemahaman Legowo untuk penyelenggaraan yang lebih baik di kemudian hari.  

Rabu, 25 Januari 2012

Oleh-Oleh Dari SULSEL


PERTEMUAN NASIONAL FLIPMAS DI MAKASAR
DAN KUNJUNGAN KE BULUKUMBA

                Pada tanggal 11-13 Januari yang lalu, jajaran pengurus FLipMAS seluruh Indonesia berkumpul di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan atas inisitif FLipMAS Mammiri yang juga tengah merayakan ulang tahun pertamanya. FLipMAS Mammiri memang baru berumur 1 tahun, tapi kehadirannya telah diterima antusias masyarakat Sulawesi Selatan. Terbukti pertemuan nasional FLipMAS sangat diapresiasi oleh Kepala BALITBANGDA Propinsi Sulawesi Selatan yang menghadiri pembukaan pertemuan, juga Bupati Bulukumba yang memfasilitasi kunjungan seluruh peserta pertemuan nasional di Bulukumba, serta dengan penerimaan Ammatoa yang memimpin masyarakat tradisi di Kecamatan Kajang yang kukuh menjunjung tradisi menolak masuknya teknologi ke masyarakat ‘tana tua’ dalam.
                Agenda pertemuan nasional, berjalan sesuai rencana. Dimulai dengan paparan perkembangan FLipMAS secara umum di tingkat nasional oleh Ketua FLipMAS Indonesia Sundani Nurono Suwandhi (SNS), pengalaman I Ketut Sardiana dari FLipMAS Ngayah tentang bagaimana melakukan pemetaan wilayah, kemudian dilanjutkan dengan perbincangan tentang ‘Jurnal Kegiatan Pengabdian’ yang pada momen akhir tahun dibahas di 5 tempat yang berbeda (Jogja, Malang, Bali, Makasar, dan Samarinda Kaltim). Pada paparannya Ketua FLipMAS Indonesia menekankan tentang tantangan berat FLipMAS yaitu bagaimana bisa mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat.  FLipMAS mempunyai kewajiban ikut memecah problematika masyarakat, seperti hal sederhana mencerahkan tradisi yang tidak bisa dirasionalkan seperti ‘mengapa ari-ari bayi harus digantung di pohon tertentu di masyarakat Bali, ditanam di bawah pohon kelapa di masyarakat Bugis,di jawa dikubur di depan rumah diterangi lampu selama 7 hari dan lain-lain.
                 Dalam pertemuan itu yang cukup hangat dibincangkan adalah masalah bagaimana format ‘jurnal pengabdian’ yang akan menjadi salah satu corong kegiatan FLipMAS. Hasil workshop di lima tempat tersimpul bahwa artikel pengabdian ‘perlu diperkaya data’ yang bersumber dari kajian dalam kegiatan pengabdian. Mengapa harus begitu ? Bila demikian ada yang berpendapat bahwa di dalam pengabdian ada ‘penelitian’, apa harus demikian ? Muncul gagasan bagaimana ‘prodikmas’ membangun sendiri format penulisan artikel pengabdian. Tentu ini tidak mudah, karena umumnya di benak masyarakat ‘penggiat jurnal’, bahwa artikel jurnal  ya ‘identik’ dengan ‘karya ilmiah’ yang ada dan lazim mengisi jurnal penelitian pada umumnya.  Peserta yang hadir mengharapkan ada pengecualian, karena jurnal pengabdian tentu boleh beda, yang penting asal kaidah ilmiahnya terpenuhi, dan kaidah ilmiah bukan harga mati, yang bisa kita formulasi dengan tetap bertumpu rasionalitas yang benar dan bertanggung jawab. Apa salahnya juga ikut mengacu pada beberapa kaidah yang telah berkembang di jurnal-jurnal penelitian dan cocok untuk pengabdian.
                Sesungguhnya format jurnal pengabdian telah diinisiasi oleh Ketua FLipMAS Indonesia SNS dan telah diadopsi oleh beberapa ‘Jurnal’ FLipMAS yang telah terbit misalnya Ngayah, Jagadhita, dan Olahbebaya. Formatnya sederhana, yaitu: Pendahuluan (berisi: Analisis Situasi dan justifikasi, Tujuan dan Sumber Pustaka/Rujukan); Metode (berisi: Langkah dan Waktu Pelaksanaan); Hasil dan Pembahasan (berisi: Aplikasi Iptek, Rekayasa Alat, Sistem, Manajemen, dan Dampak yang ditimbulkan); Simpulan dan Saran dan terakhir Daftar Pustaka / Rujukan. Analisis situasi sangat ‘urgen’ dalam pengabdian, karena ini yang menjadi ketajaman pengabdi memahami problematika masyarakat, demikian juga metode dan dampak yang ditimbulkan. Orisinalitas karya barangkali tidak bisa seperti penelitian, pengabdian memungkinkan menggunakan aplikasi iptek yang sama tetapi lokasi, analisis situasi, pendekatan, respon masyarakat dan dampak sangat memungkinkan berbeda. Perbedaan ini, menjadi menarik sebagai pengetahuan pengabdi, untuk itu selayaknya ‘artikelnya’ bisa dihargai sebagai hal yang berbeda. Mudah-mudahan di kemudian hari, pengkristalan kesepakatan memperkuat ‘format’ jurnal pengabdian bisa segera dirumuskan.

Kapal Pinisi dan Tana Toa Kajang
                Pasca pertemuan nasional, kami dengan mengendarai 2 bus dan beberapa mobil beriringan menuju Kabupaten Bulukumba. Kurang lebih perjalanan ditempuh selama 6 jam karena sepanjang jalan banyak simpul-simpul jalan yang macet. Bahkan bus yang aku tumpungi terlambat hingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan Bupati Bulukumba. Tetapi dengar dari beberapa teman, terbetik cerita bahwa Bapak Bupati Bulukumba sangat apresiatif dengan rombongan FLipMAS.  Mereka berharap FLipMAS dapat menjadi mitra dalam melakukan perubahan pada masyarakatnya. Ramah tamah di Bulukumba ternyata juga membuka tabir bahwa para penggiat FLipMAS  juga mampu melantunkan suara emasnya. Tidak kalah dengan Ayu Ting Tong……heee.
                Di Bulukumba rombongan dibawa melihat daerah tempat masyarakat membuat kapal legendaries masyarakat ‘Makasar’ yaitu kapal Pinnisi. Di tempat ini kita disadarkan bahwa tradisi masyarakat kita telah diakui kehebatannya. Pemesan kapal Pinnisi tidak saja dari masyarakat Indonesia tetapi juga datang dari berbagai belahan dunia. Berbagai model kapal dapat dibuat sesuai pesanan, ada yang untuk kapal penangkap ikan dan ada pula yang untuk kapal pesiar. Ukuran juga bervariasi dari ukuran kecil hingga sebesar ferri antar pulau. Pendekatan pembuatan sangat ‘pragmatis’ yang penting fungsi, menggunakan ilmu gathuk mathuk (kata orang jawa).
                Dari kapal pinisi perjalanan dilanjutkan ke kecamatan Kajang tepatnya untuk melihat lebih dekat masyarakat tradisi ‘taha toa’. Memasuki kawasan Tana Toa seluruh rombongan disarankan menggunakan baju gelap kalau hitam lebih baik, warna menyolok tidak diperkenankan. Kenapa ? Jangan Tanya karena hal itu sudah berlaku turun temurun. Mungkin itu ada kaitannya dengan kesejarahan ‘masyarakat tana toa’, konon masyarakat ini adalah masyarakat yang sengaja mengisolasi dari ketidakberaturan hidup masyarakat pada waktu itu. Kondisi yang liar mendorong mereka membentuk masyarakat yang beraturan hingga kini. Mungkin warna menyala / norak termasuk warna yang berkonotasi panas, beringas yang mereka hindari, atau bisa jadi pilihan warna hitam untuk memudahkan bersembunyi dan warna cerah mudah terlihat.
                Sementara teman-teman ke rumah Ammatoa, saya diberkenalan dengan anak muda Tana Toa yang kemudian antusias menemani keliling kampung. Alhasil aku dapat tontonan beragam anggrek di hutan-hutan Tana Toa; wow….ada Grammatophyllum scriptum, Cymbidium finlaysonianum, Vanda dearii,  Bulbophyllum vaginatum, Dipodium fictum, Eria densa, Liparis latifolia, serta anggrek-anggrek yang lain yang menggerombol di pohon-pohon besar. Keberuntungan juga ketika jalan-jalan di antara rumah masyarakat dalam suku kajang ini penulis berkenalan dengan  Camat Kajang dan dikenalkan dengan beberapa beberapa ‘Juru’ yang membantu Ammatoa salah satunya adalah Galla Puto yaitu Juru Bicara Tana Toa. Dari sang juru bicara inilah aku mengetahui beberapa hal tentang Tana Toa, beliau besama Bapak Camat dan sepertinya ajudannya dengan tekun menjelaskan berbagai hal tentang Tana Toa termasuk menuliskan lafal bahasa yang aku tidak mudeng. Dalam komunikasi harian masyarakat Suku Kajang  menggunakan bahasa Konjo. Bahasa konjo merupakan salah satu rumpun bahasa Makassar yang berkembang tersendiri dalam suatu komunitas masyarakat.
                Menurut Galla Puto umumnya masyarakat adat Tana toa hidup dari bertani dan memelihara hewan ternak. Kehidupan mereka sangat sederhana, tercermin dari misalnya rumah mereka yang sangat sederhana, tiap rumah hanya memiliki satu tangga berikut pintu masuk dibagian depan. Pada bagian dalam tidak ada kamar, yang ada hanyalah dapur yang terdapat pada bagian depan rumah tepat di sebelah kiri pintu masuk. Penempatan dapur di dekat pintu mengandung filosofis bahwa Orang Kajang sangat mamuliakan dapur sebagai sumber kehidupan. Tidak adanya sekat ruangan memiliki makna bahwa orang Kajang ingin menunjukkan sikap keterbukaannya kepada para tamu yang datang.

                Masyarakat kawasan adat Tana Toa dipimpin oleh Ammatoa yang sangat dipatuhi. Ammatoa berarti bapak atau pemimpin yang dituakan. Ammatoa memegang tampuk kepemimpinan di Tana Toa sepanjang hidupnya terhitung sejak dia dinobatkan. Ammatoa bukanlah pemimpin yang dipilih oleh rakyat melainkan seseorang yang diyakini mendapat berkah dari Yang Kuasa.  Apabila seorang Ammatoa meninggal dunia, maka Ammatoa berikutnya akan ada lagi tiga tahun kemudian. Dalam masa tiga tahun, para tetua adat akan melihat-lihat orang sekitar yang diyakini memiliki ciri-ciri tertentu yang biasanya terdapat pada seorang calon Ammatoa. Setelah masa tiga tahun, para calon Ammatoa yang telah terpilih dikumpulkan, lalu seekor ayam yang telah dilepas pada penobatan terdahulu didatangkan lagi, lalu ayam tersebut dilepas kembali, ketika ayam tersebut lepas dan hinggap pada seorang calon Ammatoa, maka dialah yang menjadi Ammatoa.
                Sebagai tetua adat Ammatoa tidak sendirian, tetapi didampingi oleh dua orang Anronta, masing-masing Anronta Ribungkina dan Anronta Ripangi serta 26 orang pemangku adat. Ke-26 orang pemangku adat ini antara lain Galla Puto yang bertugas sebagai wakil atau sekretaris sekaligus juru bicara dan Galla Lombo yang bertugas untuk urusan luar dan dalam kawasan. Selain itu ada Galla Kajang yang mengurusi masalah keagamaan, Galla Pantama untuk urusan pertanian, dan Galla Meleleng untuk urusan perikanan. Yang jelas di Tana Toa sudah ada tatanan, dan tatanan tersebut benar-benar dijunjung dengan teguh, ditaati bersama, bagi yang melanggar juga ada sangsi sesuai hokum adat. Ada beberapa hukum adat, mulai dari hukuman paling ringan sampai paling berat. Hukuman paling ringan atau disebut juga cappa babala adalah keharusan menbayar denda sebesar 12 real ditambah satu ekor kerbau. Satu tingkat diatasnya adalah tangga babala dengan denda 33 real ditambah satu ekor kerbau, denda paling tinggi adalah poko babala yang diharuskan membayar 44 real ditambah dengan seekor kerbau. real yang digunakan dalam hal ini adalah nilainya saja, karena uang yang digunakan adalah uang benggol yang saat ini sudah sangat jarang ditemukan.
                Juga ada dua bentuk hukuman lain di selain hukuman denda yaitu: tunu panroli dan tunu Passau. Tunu panroli biasanya dilakukan bagi kasus pencurian bertujuan untuk mencari palakunya. Caranya seluruh masyarakat harus memegang linggis yang membara setelah dibakar. Jika tersangka lari dari hukuman dengan meninggalkan kawasan adat Tana Toa, maka pemangku adat akan menggunakan tunu Passau. Caranya Ammatoa akan membakar kemenyan dan membaca mantra yang dikirimkan ke pelaku agar jatuh sakit atau meninggal secara tidak wajar. Adanya hukum adat dan pemimpin yang sangat tegas dalam menegakkan hukum membuat masyarakat kawasan adat Tana Toa sangat tertib dan mematuhi segala peraturan dan hukum adat.
                Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Tana Toa memegang teguh pasanga ri Kajang (pesan di Kajang) yang juga adalah ajaran leluhur mereka. Isi pasanga ri Kajang yaitu:
  1. Tangurangi mange ri turiea arana, yang berarti senangtiasa ingat pada Tuhan Yang Berkehendak.
  2. Alemo sibatang, abulo sipappa, tallang sipahua, manyu siparampe, sipakatau tang sipakasiri, yang artinya memupuk persatuan dan kesatuan dengan penuh kekeluargaan dan saling memuliakan.
  3. Lambusu kigattang sabara ki pesona, yang artinya bertindak tegas tetapi juga sabar dan tawakkal.
  4. Sallu riajoka, ammulu riadahang ammaca ere anreppe batu, alla buirurung, allabatu cideng, yang artinya harus taat pada aturan yang telah dibuat secara bersama-sama kendati harus menahan gelombang dan memecahkan batu gunung
  5. Nan digaukang sikontu passuroangto mabuttayya, yang artinya melaksanakan segala aturan secara murni dan konsekuen.
                Menarik sekali, masyarakat suku Kajang yang dianggap ‘kuno’  dan menutup diri dari gempuran modernisasi zaman ternyata  memiliki ‘hal adi luhung’ yang makin banyak ditinggalkan masyarakat modern. Lima poin pasanga ri Kajang rasanya perlu menjadi pembelajaran buat kita ‘kumpulan PROdikMAS’ yang seperti masyarakat Tana Toa dulu, mengisolir menjauhi kegaduhan dan kesemrawutan, PROdikMAS berkumpul mengaktualisasi diri meninggalkan menara gading PT yang jauh dari akar rumput masyarakat, bisakah kita menelurkan ‘pasanga ri FLipMAS’ yang bisa menggawangi misi dan vifi FLipMAS ? Ini Tantangan, jangan kalah dengan Suku Kajang. Heeee !!!!!

Selasa, 03 Januari 2012

Berita

                PERTEMUAN NASIONAL FLIPMAS DAN  HUT MAMMIRI
DI SULAWESI SELATAN

                Seperti tidak ada jeda, tidak ada waktu untuk istirahat menikmati sebuah momentum akhir dan tahun baru, begitu sang kala bergerak meninggalkan 2011 ‘genderang’ kerja sudah mulai ditabuh.  FLipMAS Mammiri yang dikomandani seorang Srikandi Muda Ibu Citra Asmi Malina (lihat profil posting lama) memulai dengan menggelar Pertemuan Nasional FLipMAS dan HUT FLipMAS Mammiri. Kegiatan tersebut menurut Ibu Citra sebagai upaya menanggapi keinginan teman-teman FLipMAS untuk bertemu berdiskusi membicarakan masalah Jurnal Aplikasi IPTEKS, terutama setelah diadakannya WS penulisan jurnal, maka FLipMAS Mammiri berinisiatif mengundang teman-teman PROdikMAS yang tergabung dalam FLipMAS untuk datang berkumpul di Makassar dan Kab. Bulukumba untuk menghadiri peringatan setahun berdirinya FLipMAS Mammiri sekaligus melaksanakan pertemuan Nasional FLipMAS Indonesia. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada tanggal 11 - 13 Januari 2012. 

            Menyimak agenda acara yang disampaikan di Mailling List FLipMAS Indonesia,  kegiatan FLipMAS di Sulawesi Selatan nanti pada dasarnya meliputi kegiatan Seminar dan diskusi tentang jurnal, kegiatan pengabdian masyarakat dan malam ramah tamah di Cottage Tanjung Bira Kab. Bulukumba.  Tentu karena momentum tersebut adalah momentum nasional yang dihadiri para ‘pentolan’ FLipMAS Pusat dan Wilayah tidak menutup kemungkinan akan tambah bahasan baru yang tidak kalah penting yaitu ‘bahasan tentang keorganisasian FLipMAS’. Terutama menyangkut program kerja dan tatanan kerja. Tubuh FLipMAS makin hari makin gemuk, tubuh yang mulai gemuk mulai perlu energi tambahan. Anggota yang banyak, akan menghadirkan suara dan bunyian yang beragam. Ibarat sebuah kumpulan ‘orkesta’ kita punya beragam alat musik, penyanyi dengan beragam tingkatan suara, semangat bermusik dan tenggangrasa bersimponi. Kita harus bersyukur sudah punya ‘dirigen’ yang handal dan terpercaya, jadi mudahan ;simponi’ yang akan kita mainkan tentu potential merdu mendayu.  Yang terpenting kita mesti sepakati mau ‘bersimponi apa ’ di tahun depan ini ?  Bagaimana tata nada, improvisasi dan kunci-kunci pentingnya sehingga akan menghasilkan simponi yang harmoni.

            Kegiatan FLipMAS di tahun 2012  nampaknya  akan terus bergulir, yang mulai terlaporkan pasca Pertemuan Nasional FLipMAS Mammiri langsung menyandera Ketua dan Wakil FI agar tetap di Makasar sebagai nara sumber kegiatan Workshop Penulisan Proposal PPM. Untuk itu bagi teman-teman prodikmas yang berada di wilayah Indonesia Timur,  bisa memanfaatkan kegiatan ini. Workshop penulisan proposal PPM rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 13 - 15 Januari 2012,  Untuk informasi selengkapnya dapat dilihat dibrosur yang diedarkan di PT masing-masing. Berikutnya menyusul FLipMAS Legowo yang akan menyelenggarakan Workshop yang sama pada tanggal 25-26 Jaanuari 2012 di ‘Hotel Palem Sari Kota Batu (lihat posting sebelumnya). Informasi dari FLipMAS Wilayah yang lain belum kita terima, tetapi lihat saja akan bermunculan kegitan-demi kegiatan yang lain yang akan makin menggirahkan forum ini.  

Khusus bagi keluarga besar FLipMAS yang hendak hadir di acara Pertemuan Nasional contact person yang bisa dihubungi adalah Dr. Marsus Suti/UNM (Ketua Panitia), 081241143662 dan Dra. Rahmawati Syukur, M.Si/UNHAS (Sekretaris Panitia) 081343865885.  Untuk kegiatan workshop proposal PPM, pak Rahmad S.P/POLITANI (085299845310) dan pak Drs.M. Hasbi, M.Sc/UNHAS (085230581194). Teman-teman Mammiri akan sangat berbahagia dan berterima kasih sebelumnya kepada teman-teman yang bersedia datang ke Makassar, ditunggu konfirmasi kedatangannya, 
                

Selasa, 20 Desember 2011

BERITA / PENGUMUMAN




LEGOWO MENGADAKAN
WORKSHOP
PENYUSUNAN PROPOSAL PENGABDIAN KEPADA MAYARAKAT

  
Forum Layanan Ipteks Bagi Masyarakat Perguruan Tinggi  (FLIpMAS) ”LEGOWO” bekerja sama dengan  DPPM Universitas Muhammadiyah Malang; LPM-Universitas Negeri Malang; LPPM: Universitas Brawijaya, Universitas Widya Gama; Universitas Wisnu Wardhana; Universitas. PGRI Adi Buana; Politeknik Negeri Malang; UPN. Veteran JATIM, Universitas Machung; STIE Malangkucekwara; Perguruan Tinggi Swasta Lumajang; Agro Indonesia PemKab/PemKot Se Jawa Timur. Akan menyelenggarakan Workshop Penyusunan Proposal Pengabdian Kepada Masyarakat dan tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah: PERAN FORUM LAYANAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT (FLipMAS) DALAM PENINGKATAN  MUTU PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT BERBASIS WILAYAH

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut kebijakan Dirjen Dikti perihal desentralisasi pengelolaan program pengabdian kepada masyarakat  ke 12  wilayah Perguruan Tinggi di Indonesia. FLipMAS Legowo mengawali dengan mengerahkan potensi reviewernya yang berpengalaman melaksanakan pengabdian sejak tahun 1994,  untuk memberikan pendampingan kepada Dosen-Dosen Perguruan Tinggi di Jawa Timur dan sekitarnya  dalam penyusunan proposal yang berkualitas sesuai dengan kearifan dan potensi wilayah  (SDA; SDM; Industri). Reviewer yang bergabung dalam Legowo  berkewajiban memotivasi dosen Perguruan Tinggi, untuk  menyusun proposal yang sesuai dengan visi, misi, ketentuan administrasi, jenis program PPM yang dikelola DITLITABMAS, CSR, ataupun Pemkot/Pemkab.

     Tujuan Workshop ini adalah membimbing peserta Workshop dalam membuat Proposal Pengabdian Kepada Masyarakat seperti Proposal Iptek Bagi Masyarakat (IbM), Iptek Bagi Kewirausahaan (IbK), Iptek Bagi Kewirausahaan Kampus (IbIKK), Iptek Bagi Produk Ekspor (IbPE), dan Iptek Bagi Wilayah (IbW). Melalui berita  ini, kami mengundang para Dosen Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, baik atas nama lembaga maupun pribadi, untuk berkolaborasi dalam penyusunan proposal berbasis kewilayahan.

            Rencananya kegiatan workshop akan dilaksanakan  selama 2 (dua) hari yaitu pada hari Rabu  tanggal 25 Januari 2012 mulai jam 13.30 – 22.00 dan hari Kamis 26 Januari 2012 mulai pukul 08.00 – 12.00 bertempat di Hotel Palem Sari Jl. Raya Punten  No. 2 Batu.  Kontribusi  Peserta Workshop per orang:
1.    Pengurus/anggota Flipmas Legowo dana sebesar Rp. 250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah)
2.    Umum: dana sebesar Rp.450.000,- (empat ratus limapuluh ribu rupiah).
Catatan:
Umum: pembayaran yang dilakukan sebelum tanggal 15 Januari 2012, hanya Rp.350.000,- (tigaratus limapuluh ribu rupiah)
Fasilitas selama workshop meliputi: konsumsi selama workshop;  Penginapan ( 1 kamar untuk 2 peserta) ;   Sertifikat ; Workshop Kit ; Layanan konsultasi 2x setelah workshop di Kantor Sekretariat “FLIpMAS LEGOWO” Jalan Raya Tlogomas 246 Malang (DPPM  Universitas Muhammadiyah Malang).

            Biaya pendaftaran dapat diserahkan di :
1.  Kantor Sekretariat “FLIpMAS LEGOWO” Jalan Raya Tlogomas 246 Malang (DPPM  Universitas Muhammadiyah Malang) setiap jam kerja, kepada sdr Afif Setiawan (staf pendaftaran).
2.  Tranfer ke rekening bank : an. Panitia Workshop Pemetaan Wilayah dan Penyusunan Proposal Pengabdian Kepada Masyarakat PPM. No. Rekening BNI  0140595597 Cabang Malang
An Dyan Djuwitaning Rini
Pendaftaran dapat dilakukan secara langsung di Panitia Workshop, Kantor Sekretariat “FLIpMAS LEGOWO” Jalan Raya Tlogomas 246 Malang (DPPM  Universitas Muhammadiyah Malang), atau melalui e-mail : legowoflipmas@yahoo.com  Telp: 0341464318 ; Fax 0341435 / 0341460782 Mobile 087859907623.  pada setiap hari kerja : Senin-Jumat Pk. 08.00 s/d  15.00. WIB. Pendaftaran akan ditutup pada tanggal 24 Januari 2012 pukul 15.00. WIB. Peserta dibatasi  100 orang.

            Pelaksanaan workshop ini diawali dengan penjelasan tentang : Kebijakan PPM DITLITABMAS; Pemkab/Pemkot; Selanjutnya peserta diskusi/menyusun proposal sesuai minatnya masing-masing. dibagi menjadi 10 orang/kelompok yang didampingi seorang instruktur/reviewer. Rencana pembicaranya adalah:
1.          DITLITABMAS Ditjen DIKTI
2.          Prof. Dr. Sundani N.S. (Pakar Prodikmas)
3.          Ir. Gatot Murdjito, MSc. (Pakar Prodikmas)
4.          Bapeprov, Bapekab/Bapeko
5.          Pimpinan Program CSR Perusahaan/BUMN

INFORMASI TRANSPORTASI
Bagi peserta dari luar pulau atau luar daerah, panitia memberi informasi tambahan tentang jadwal penerbangan  dan transportasi menuju ke arah  Hotel PALEM SARI   Jl. Raya Punten No.2.  BATU Telp.0341-591219.

Malang- Jakarta
Sriwijaya jam 08.35.SJ251; 12.25.SJ247; 14.25.SJ247
Batavia jam 11.50Y6-244.
Garuda jam 10.50 GA291;


Jakarta - Malang
Sriwijaya jam 06.40.SJ250; 10.30.SJ246.
Batavia jam 09.45.Y6-243
Garuda jam 08.40.GA290; 11.00.GA292

Keluar Bandara dapat menggunakan taksi bandara menuju Hotel PALEM SARI  Jl. Raya Punten No.2. BATU.
Tiket pesawat segala jurusan dapat dipesan pada sdr. IIN (trevel Domestik) No.HP. 03418145430; 081233455233; 081334347477.

Sabtu, 17 Desember 2011

PROFIL

ASMI CITRA MALINA SPi. M Agr, PhD

PERENCANAAN  TERINCI  SETIAP  PENGAMBILAN  KEPUTUSAN

            “Secepat angin, Seanggun rimba belantara, Menjarah bagaikan api, Kokoh bagaikan gunung” istilah ini tepat ditujukan bagi FLipMAS Mamiri Makassar yang dinahkodai seorang wanita muda yang energik Asmi Citra Malina, Dosen Universitas Hassanudin Makassar. Ia yakin dengan perencanaan yang seksama dan terinci, maka akan digapai kemenangan dalam setiap pengambilan keputusan. Itu sebabnya dia selalu melakukan perencanaan yang terinci dalam setiap langkahnya agar FLipMas Mamiri bisa berkiprah bagi masyarakat dengan menjalin sinergitas dengan Pemda dan CSR perusahaan.

            Sekilas penampilannya lebih banyak bercanda dengan tawanya yang renyah, tetapi siapa sangka ibu muda dari tiga orang anak kelahiran Alor Star, Malaysia Barat 28 Desember 1972 ini cukup gesit dalam mengambil keputusan.Sehingga dalam waktu  yang singkat FLipMAS Mamiri melesat bagai angin dalam melaksanakan pengabdian bagi masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan. Nah…, bagaimana dia mampu menahkodai Forum Layanan Ipteks Bagi Masyarakat yang anggotanya LPM dan dosen dari berbagai Perguruan Tinggi di Sulawesi Selatan ini? Berikut wawancara Agro Indonesia yang diundang khusus pada  Pertemuan FLipMAS tingkat nasional di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Makassar beberapa waktu yang lalu.

            Kendati seorang wanita anda nampaknya tidak mempunyai hambatan untuk menjadi nahkoda bagi FLipMas Mamiri?
            O…hambatan tentunya pasti ada, tetapi saya berusaha meminimalisir hambatan itu. Yang penting bagi saya adalah menjalankan tugas dengan baik dan kegiatan ini harus selaras dengan kegiatan saya di kampus. Keyakinan saya terhadap perjalanan FLipMAS memang mengalahkan segalanya, karena itu saya bersemangat sekali agar FLipMAS mampu menciptakan produk yang spesifik wilayah tetapi tetap ada inovasi disana.
            Apa yang anda maksud dengan spesifik wilayah?

Jurnal Aplikasi Iptek FLipMAS Olahbebaya




Cover_Vol_1Samarinda – Sesuai dengan program kerja Flipmas Olahbebaya, pada Bulan Oktober 2011 akan memiliki Jurnal Ilmiah Aplikasi Ipteks Bagi Masyarakat. Jurnal perdana telah terbit dengan sampul khas Kalimantan Timur (berlatar belakang Rumah Adat Lamin dan Batik Kaltim) berisi 8 artikel yang terdiri atas 7 artikel hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat dan 1 artikel gagasan tentang pengembangan Teknologi Informasi.
Jurnal Olahbebaya merupakan jurnal ilmiah aplikasi ipteks yang berisi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan atau gagasan inovatif yang berkaitan dengan aplikasi ipteks bagi masyarakat. Terbit berkala 2 (dua) kali setahun, yaitu April dan Oktober.
Bertindak sebagai Ketua Dewan Penyunting adalah Prof. Dr. Hj. Eny Rochaida, SE., M.Si. (Ketua LPPM Universitas Mulawarman) dan didampingi oleh Ibu Tuti Nugrahini (Ketua LPPM Universitas Widya Gama Mahakam). Sebagai penyunting pelaksana dikoordinir oleh Addy Suyatno (KPH Flipmas Olahbebaya), dibantu oleh Nursobah (STMIK Widya Cipta Dharma), Anis R. Utary (Fakultas Ekonomi Unmul), Maridi M. Dirdjo (STIKES Muhammadiyah) dan Indah Fitri Astuti (FMIPA Unmul).
Sebagai penyunting ahli berjumlah 5 orang yang tergabung dalam Mitra Bestari, berasal dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia antara lain Arief Hermawan (Universitas Teknologi Yogyakarta, Yogyakarta), Adi Sutanto (Universitas Muhammadiyah, Malang), Ineke Pakereng (Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga), Rahmat Gunawan (Universitas Mulawarman, Samarinda), dan Yusuf Rumbino (Universitas Nusa Cendana, Mataram).
Untuk sementara waktu, sekretariat jurnal berkantor di LPPM Universitas Mulawarman Jalan Kerayan Nomor 1 Kampus Gunung Kelua, Samarinda – Kalimantan Timur. ( by Addy Suyatno, dr Olahbebaya)